Tahun 2019 menjadi titik awal. Pemerintah desa mulai mengalokasikan Dana Desa untuk membuka dan menata kawasan ini, bukan lewat investor besar, melainkan murni inisiatif dan urunan anggaran desa sendiri. Sejak saat itu, pembangunan berjalan bertahap–hampir tiap tahun ada rencana baru yang dijalankan, mengikuti besaran anggaran yang tersedia.
Fasilitas pertama yang benar-benar mengubah wajah Puncak Harmoni adalah permandian atau kolam renang, yang mulai dibangun tak lama setelah pembukaan lahan dan akhirnya diresmikan penggunaannya untuk umum. Kolam ini istimewa karena airnya dialirkan langsung dari mata air pegunungan, melewati empat tahap penyaringan sebelum sampai ke pengunjung memanfaatkan salah satu dari sembilan mata air yang dimiliki kampung ini.
Nama "Puncak Harmoni" sendiri bukan sekadar nama indah. Menurut cerita warga, termasuk Pak Aci dan Pak Deru, nama ini dipilih karena mencerminkan kehidupan Korololaki: desa dengan warga lintas agama yang hidup rukun, bahkan dalam satu keluarga besar pun kerap ada anggota berbeda keyakinan. Kata "Puncak" melambangkan titik tertinggi tempat semua perbedaan itu terlihat menyatu dalam satu pemandangan.
Seiring waktu, pengelolaan diserahkan sepenuhnya ke Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), setelah pemerintah desa menuntaskan tahap pembangunan fisik. Berbagai laporan media lokal mencatat perkembangan ini dari tahun ke tahun mulai dari peresmian resmi oleh Bupati Morowali Utara, pembukaan kolam renang untuk umum, hingga rencana pembangunan homestay yang baru terealisasi tahun 2026.